CLICK HERE FOR BLOGGER TEMPLATES AND MYSPACE LAYOUTS »

09 November 2008

Ketika PSK Dilarang Beroperasi di Tempat Kasino



Hindari Sekuriti, Kucing-Kucingan Dalam Satu Ruangan

Sebagai tempat perjudian terbesar di dunia, lokasi kasino di Venetian ga cuma menarik perhatian para penjudi besar. Para PSK pun juga tertarik menjaring pelanggan di tempat tersebut meski pihak Venetian melarangnya. Terpaksa, sang kupu malam menjajakan diri dengan sembunyi-sembunyi.

Seperti biasanya, suasana kasino di Venetian diwarnai dengan hiruk pikuk gemerlap perjudian malam itu. Ratusan mesin perjudian dan dealer perjudian tampak dikerubuti oleh lima sampai sepuluh penjudi yang mengadu nasib. Lampu-lampu dari atap ruangan yang didominasi warna kuning tak hentinya menyorot setiap detil taruhan yang dilakukan. Carribean Stud, Baccarat, Poker, mesin slot, serta berbagai jenis perjudian lainnya.

Namun di antara kesibukan tersebut, tampak beberapa gadis berpakaian seksi sibuk berlalu-lalang tanpa tujuan yang jelas. Jika dihitung, mereka bisa mencapai angka puluhan. Namun, mereka selalu berpencar untuk menjaring konsumen di antara aktifitas perjudian di tempat tersebut. Maklum saja, meski satu ruangan, lokasi kasino terhitung sangat luas, sekitar 46 ribu meter persegi.

Dalam satu waktu, satu per satu tampak melenggang di antara gerombolan penjudi seolah mereka juga bagian dari para penjudi itu. Ada pula yang berhenti dan melihat aktifitas perjudian di satu dealer perjudian yang dikerubuti penjudi. Tapi di saat lainnya, mereka tampak berjalan tergesa secara bersama-sama demi menghindari sekuriti yang menghampiri mereka.

Sekilas, gadis-gadis tersebut tak ubahnya seperti para penjudi lainnya. Apalagi, di antara pendatang yang benar-benar penjudi juga tak jarang yang berpakaian seksi. Hanya satu yang membedakan apakah mereka benar-benar penjudi atau kupu malam berkedok penjudi. Yakni cara mereka berjalan, cara memandang lawan jenis ketika berpasasan dengannya, serta gerak-geriknya yang selalu waspada.

Dalam posisi aman atau diluar pengawasan sekuriti, mereka berjalan dengan santai sambil memandang di sekelilingnya. Itu dilakukan ketika beraksi menjajakan diri pada laki-laki yang membutuhkan jasanya. Caranya, dengan menatap satu persatu laki-laki yang berpasasan dengannya atau yang berada di dekatnya.

Jika ada seseorang yang membalas tatapannya, dia langsung tersenyum dan tatapannya semakin menggoda. Perlahan dia semakin mendekat mangsanya. Setelah jaraknya cukup dekat, si kupu malam langsung menawari dengan satu atau dua kata saja. ’’Massage?,’’ kata dia dengan pengucapan yang kurang jelas. Tak jarang terdengar ’’masace’’.

Setelah mengatakan hal itu, dia langsung beranjak meniggalkan, tak ubahnya seperti seorang yang berpapasan dengan orang yang tak dikenalnya. Tentu saja, bagi seseorang yang awam, hal itu mengundang satu tanda tanya besar. Maka tak jarang pula sang mangsa kemudian penasaran dan menoleh ke arah si PSK yang sudah berjalan membelakanginya.

Tampaknya, hal itu dianggap oleh PSK sebagai respon atas tawarannya. Sang gadis langsung kembali menghampiri dan mengulangi ucapan penawarannya yang mulai jelas maksudnya. Ditanya soal tarif, dia langsung menjawab dengan perlahan. ’’Seribu,’’ kata dia dalam bahasa inggris.

Lebih lanjut si gadis mengatakan bahwa tarif itu untuk pelayanan short time saja. Cara si gadis menawarkan diri tampaknya juga sama dengan yang dilakukan oleh PSK yang lain. Rata-rata mereka menawarkan diri dengan sembunyi-sembunyi dari intaian para sekuriti.

Meski begitu, kebanyakan dari mereka hanya pasif berbahasa inggris. Salah satunya adalah yang mengaku bernama Lilian Tam. Akibatnya, gadis berusia 18 tahun itu seringkali harus bertransaki dengan bahasa tubuh dengan konsumennya. ’’Kalau saling menawar, ya pakai jari,’’ kata dia sambil menujukkan jari-jarinya.

Dia mengatakan bahwa tawaran terendah yang diterimanya adalah HKD 800. ’’Selebihnya tidak bisa, karena beroperasi disini resikonya juga besar,’’ ungkapnya. Lagipula, dia mengatakan bahwa pedatang Venetian rata-rata adalah kalangan berduit.

Tam mengaku telah beroperasi di Venetian selama 3 bulan. Selama itu, dia harus pintar-pintar untuk menghindari sekuriti. Ternyata, banyak cara yang bisa dilakukannya untuk menghindari tangkapan sekuriti. Kalau dia sudah dalam kondisi terjepit, Tam tak segan-segan menghampiri seseorang tak dikenal dan mengajak untuk mengobrol. Sehingga, seolah-olah Tam sedang menemani temannya yang sedang bermain judi.

Cara itu dianggap cukup jitu karena pada prinsipnya, sekuriti tidak bisa menganggu kenyamanan pendatang. ’’Jadi, mereka akan berhenti mengejar saya,’’ kata dia. Cara lain, yang juga sering dipakai adalah dengan modal beberapa lembar tiket perjudian mesin slot.

Namun, dengan cara itu PSK tidak bisa berjalan-jalan di tengah kerumunan penjudi. Mereka harus berada di sekitar mesin slot. Paling tidak duduk-duduk di kursi yang berada di depan setiap mesin tersebut. ’’Jadi kalau ada petugas, tinggal masukkan tiketnya saja dan bermain judi,’’ ujar Tam. Maka dari itu, salah satu sudut kasino tempat mesin-mesin slot seringkali dijadikan tempat mangkal oleh para wanita penghibur itu.

Tapi jika mereka tak punya kesempatan untuk berpura-pura, para PSK tersebut terpaksa harus menghindar dari sekuriti secepat mungkin. Kalau menyelinap dibalik kerumunan penjudi sudah tak memungkinkan, maka mereka terpaksa diusir oleh sekuriti. Dan hal tersebut seringkali dialami para PSK.

Namun, dari pengamatan saya, tak satupun dari mereka yang ditangkap dan dipaksa keluar oleh. Yang sering terlihat justru kucing-kucingan antara sekuriti dan PSK. Maka dari itu, seorang PSK di tempat itu selalu tampak waas-was jika aktifitasnya diamati oleh sekuriti. Kalau sudah tertangkap basah tawar menawar dengan calon konsumen, mereka hanya diomeli oleh sekuriti.

Salah seorang sekuriti yang tak mau disebutkan namanya mengatakan bahwa Venetian memang menolak kehadiran wanita-wanita itu. Tapi, Venetian juga tak bisa menghalangi urusan pribadi sang penjudi. ’’Maka dari itu kami selalu mengusir mereka,’’ ujar dia. (by Si Way)

0 orang baik sudah ngomel: